Fuyuno
Ai
by : sausan
"Brak!!!” Toni
menggebrak meja.
“Hey ! Anata!
Ngapain saja kamu seharian tadi! Masak begini saja tidakbecus! Dasar perempuan
tak tahu diri! Aku seharian capek tahu!” Toni terus mengumpat.
Tak lama kemudian
dia masuk ofuro. Sekali lagi Brakk! Pintu kamar mandipun jadi korban sasaran
berikutnya. Aku terduduk lega. Jantungku tak beraturan setiap kali mendengar
teriakan Toni. Segera kuambil air minum di atas meja. Belum sampai di mulutku
tiba-tiba.
”Hey ! Ambilkan
handuk sama piyama! Cepaaat!” Teriak Toni dengan kasar. Dengan setengah
ketakutan aku lakukan apa yang diinginkannya.
“Ya ya!..ini
kutaruh di atas sentakuki…” kataku sambil meletakkan handuk biru dan piyama
coklat di atas mesin cuci.
Setelah itu aku
membersihkan meja yang penuh berserak piring-piring akibat kemarahan Toni tadi.
Tiba-tiba dadaku terasa sesak, sampai kapan aku begini?
Air mataku mengalir
terus tak henti. Setiap saat hampir aku dipenuhi ketakutan. Toni tak selembut
yang kubayangkan. Sudah tiga bulan ini aku hidup bersamanya, seperti suami
istri. Aku jatuh cinta sejak pertama mengenalnya. Matanya agak sipit, meski
kulitnya kecoklatan. Indonesiajin, aku suka.
“Dasar cengeng!
Buat apa nangis?
"Cepat
bersihkan sana! Lelet!” Kata Toni mengagetkanku.
“Lelet?” Tanyaku.
Kulihat Toni melengos tak menjawab. Lelet? Kugigit bibir bawahku menahan pedih.
Entah berapa lama
aku sibuk membersihkkan peralatan makan dan dapur, tahu-tahu jam dinding sudah
menunjukkan pukul 12.00. Pantas saja tak kudengar suara Toni lagi. Biasanya dia
mengerjakan repoto sambil memutar musik keras. Ah Toni. Kenapa aku selalu bisa
bersabar menghadapimu? Meski kutahu tiap hari aku selalu menerima perlakuan
kasar darimu? Terlalu cintakah aku? Apakah aku terlalu berharap menjadi istri
Toni dan setelah usai program masternya berakhir di Todai, aku bisa ikut pulang
ke negerinya? Negeri indah yang sering kubaca di majalah, koran ataupun
buku-buku di kankousha?
Piuuh! Aku menghela
nafas panjang. Kupandangi wajah Toni yang meringkuk di futon. Rupanya musim Aki
membuat Toni kedinginan, padahal menurutku belum seberapa dingin. Menurut
tenkiyoho suhu udara Tokyo masih sekitar 23 derajat, hanya kalau hari mulai
malam suhu perlahan menurun. Hmm duduk di taman mungkin lebih sejuk.
*****
Aku berjalan
menyusuri barisan kamar. Ternyata ada banyak orang asing tinggal di apato ini.
Terlihat nama-nama asing tertulis di box surat yang baru kulintasi di ujung
apato. Selama ini aku jarang memperhatikan. Maklum, aku biasanya sibuk di
hari-hari biasa. Kuliah masuk jam 9 pagi dan selesei biasanya jam 3 sore.
Setelah itu baito di salah satu kombini terkenal dekat Shibuya. Jam 9 malam
baru bisa bernafas lega. Meski di rumah ada pekerjaan menumpuk selalu setia
menanti. Yah! Semua kulakukan atas nama cinta. Cintaku pada Toni, seorang calon
master IT.
Taman kecil yang
lebih suka kusebut “Pocket Park” di depan apato tampak lengang. Lampu taman
yang redup menambah suasana sepi. Di pintu masuk taman aku berpapasan dengan
seorang pemuda. Sepertinya penghuni apato juga. Tanpa memandangku dia
mengangguk sopan. Aku membalasnya dengan sedikit senyum. Oops! Ngapain senyum.
Orang dia gak lihat aku. Aku berkata pada diriku sendiri. Siapa dia ya? Hmm
kayaknya dia sering aku temui mendorong kereta bayi di taman ini. Bukankah dia
suami Fatimah San? Orang Indonesia yang juga sedang kuliah di Todai? Yup! Tidak
salah. Aku sering ketemu dengannya ketika kami sama-sama buang sampah. Dia
selalu menyapaku lebih dulu. Wajahnya terlihat bersih serta penuh senyum
dibungkus scraf yang selalu sepadan dengan baju dasternya. Aku menyebut daster
untuk baju yang sering dipakainya. Dia tak pernah kujumpai memakai pakaian
sepertiku jeans ketat, kaos ketat, dengan segala model belahan. Apa gak panas
tuh? Apalagi natsu …hmm taihenkamo.. Aku mengangkat bahu.
Saat tak ada kuliah
aku sering sendirian di rumah. Terutama hari juma’at, aku libur kuliah juga
libur baito. Saat itulah aku sering melihat wajah-wajah teduh berscraf di rumah
Fatimah San. Entah siang, atau sore aku lupa. Apa yang mereka lakukan ya?
Penasaran juga. Sepertinya mereka rukun dan akrab sekali
Di kampus aku punya
teman yang pakai seperti itu juga. Futari dake, tapi ada banyak temannya dari
fakultas lain yang sering ngumpul di taman depan ruang kuliah. Urayamashinaa..mereka
selalu riang. Aku kadang diajak gabung oleh wi san, yang sekelas denganku.
Senang bisa mengenal mereka. Semuanya ramah. Bahkan ketika ada teman mereka
yang merayakan pesta perpisahan karena akan pulang ke Indonesia, mereka juga
mengundangku. Sungguh terlihat jelas mereka sopan-sopan sekali. Teman yang
laki-laki terlihat seperti mengambil jarak Tidak berbaur dengan kami yang
perempuan. Dan selama kutahu tak pernah sekalipun ada minuman keras ada
diantara mereka. Mengapa beda dengan teman-teman Toni ya? Toni saja seperti
itu. Suka mabuk. Aku sih menganggapnya wajar karena aku terbiasa dengan itu
semua. Kalau aku lagi marah sama Toni pun suka minum sampai teler. Lega rasanya
hati bila bisa minum sampai mabuk. Jadi ingat saat aku tertidur pulas di
samping apato beberapa waktu lalu. Fatimah San yang membangunkanku. Sungguh aku
malu saat itu.
Ingat Toni aku
sedih. Beruntung tadi Toni tak menamparku. Minggu lalu wajahku sebelah kanan
membiru bekas tamparan Toni. Aku tak pernah melawan. Aku sangat mencintai Toni.
Dan aku berharap Toni mau berubah. Saat aku ke gereja ikut Toni yang tak mesti
seminggu sekali itu, aku selalu berdoa di depan patung salib. Mudahan dia
mengabulkan pintaku untuk senantiasa bahagia bersama Toni.
Teng..teng..
sayup-sayup kudengar dentang jam berdentang dua kali. Kulirik Gucci pemberian
Ibu oshogatsu tahun lalu. Yup! Aku beranjak meninggalkan taman.
"Yukiko San!!
Matte!”
Aku menoleh.
Kulihat Hasna San, teman sekelasku berlari-lari. Dengan nafas
tersenggal-senggal dia mengatakan ingin mengajakku ke rumahnya.
“Kamu dokoemo
ikanai? Kyo? Senseinya gak hadir kan? Yuk ikut kerumahku..oops! kaikan. He.he,
daripada dirumah bengong.” Pintanya.
“ Ee to..sonee,
tapi nanti aku harus baito jam 3 sore.” Jawabku
“Nee sakkini kaeru
iiyou! Iko!" Aku tak bisa menolak. Entahlah, aku merasa nyaman bersama dia
dan teman-temannya.. Uniknya mereka tak ada yang punya pacar. Katanya suami
mereka nanti itulah pacar mereka. Tidak boleh pacaran dalam agama mereka. Oh ya
Islam.
Kamu gimana? Saat
mereka balik bertanya aku kelabakan. Terus terang aku tak tahu sebenarnya
agamaku apa? Sejak bersama Toni tiga bulan yang lalu aku sering ikut ke gereja.
Cuman ikut saja. Kupikir sama saja. Shinto, Budha, juga Kristen. Karena mungkin
aku tak mempelajari sejak kecil. Dan sekarang aku sama Toni hidup bersama tanpa
ikatan. Seperti apa ya aku dalam pandangan mereka? Di negeri mereka tabu hidup
bersama. Hanya Toni bersamaku…dia Indonesiajin tapi…
“Nee..hello??
kulihat Hasna menggoyangkan tangannya didepanku. “Melamun?” katanya lagi..
“..iie…” sahutku
cepat.
“Naik Keio saja ya
ke Meidaimae trus oper ke jurusan Hachioji” Kata Wi San menerangkan, setelah
kami tiba di eki. Ternyata sudah menunggu teman-teman Hasna San yang lain di
situ. Ada sekitar lima orang. Nama mereka aku tidak begitu hafal.
“Konnichiwa” Aku
menyapa sambil mengangguk.
“Konnichiwa” .sahut
mereka serempak.
Dan tak ada sepuluh
menit, kami sudah naik Keio Line menuju Meidaimae. Seperti yang tadi dikatakan
Wi san nanti norikae di Meidaemae, baru turun di Sengawa eki.
Didalam densha aku
banyak termenung. Ada diantara mereka selalu membuat aku berpikir. Suami itu
sekaligus pacar? Tidak ada pacaran? Bagaimana bisa saling mengerti dan memahami
sifat-sifat masing-masing kalo tidak saling mengenal mendalam terlebih dahulu?
Itukah islam? Hatiku berdesir. Sepintas dimataku bayangan fatimah San dan
kelurganya yang tampak bahagia. Teman-temanya banyak. Juga Wi San dan
kawan-kawannya wajahnya selalu terlihat cerah.
Sampai di Sengawa
Eki jam 11 siang. Masih banyak waktu menunggu baito. “Eh Yukiko San mau belanja
sebentar ya? Daijobu?” Tanya Hasna San. Aku mengangguk.
Tak lama setelah
itu kami berjalan ke Soshigaya kaikan. Lumayan jauh dari eki, sekitar 30
menitan. Gedung asrama mahasiswa berlantai 5 itu terkesan asri, rapi dan
bersih. Sepertinya nyaman tinggal disini.
“Kita ke lantai
berapa?” Tanyaku. “Rencananya kita oinori dulu dikamar Wi San lantai I, habis
itu ke dapur masak dan makan..dou? Sudah lapar ya? Maaf ..sholat dulu.” Hasna
San menjawab sambil mencari sesuatu dalam tasnya.
“Sholat?”
“Ya..” Jawab Hasna
San singkat.
“Sholat itu
oinori…” Sambung seseorang. Aku mengangguk. Hmm inorinya gimana ya? Apa sama
denganku? Ah lihat saja.
“Yuk masuk..maaf
kamarnya sempit, masih berantakan pula..yuk semua masuk, sholatnya gantian ya?
Tapi kayaknya cukup deh!” Kata Hasna San sambil membuka pintu.
Aku melihat mereka
berbaris rapi dalam kamar sempit itu. Setelah itu mereka melakukan gerakan-gerakan
aneh. Apa maksudnya ya? Sama dengan kebiasaan orang jepang kalau minta maaf
yang kadang sampai sujud. Lama kuperhatikan mereka, sambil melihat-lihat
suasana kamar Hasna San. Hmm rapi. Rupanya dia suka biru. Ada stiker
bertuliskan “Islam is the best choice” dan “Islam is my way”. Selebihnya ada
banyak tulisan dari huruf yang aku tak tahu. Huruf apa ya? Tak sengaja pandang
mataku tertuju pada sebuah buku tebal warna hijau di atas meja belajar depanku.
Kudekatkan kepalaku mencoba membaca judulnya “The Nobel Quran the english
translation and commentary”. Buku apa ya? Ingin tahu segera kuambil dan kubuka.
Huruf-huruf asing banyak disitu, meski ada juga bahasa inggrisnya. Pelan-pelan
kubuka selembar demi selembar sampai ada tulisan yang menarik hatiku “Say: He
is Allah, the One.” Hatiku berdesir.
“Baca apa Yukiko
San?” Sebuah suara mengagetkanku.
“Gommenasai..” Aku
segera minta maaf atas kelancanganku. “Eh gak papa!” Wi San buru-buru menjawab.
“Abis ini langsung ke dapur ya semuaa!! Aku duluan..bawa belanjaan ke sana.”
Katanya sambil membawa tas plastik berisi belanjaan.
“Aku bantu..”kataku
menawarkan.
“Iiyou…Yukikosan
bareng yang lain saja..” sahutnya tersenyum seraya bergegas keluar.
“Ya Yukiko
San…bareng aku, bentar betulinjilbab.. “ kata seseorang.
“Jilbab?? Nani??
“Gommen, scraf..ini
“ katanya menunjuk scraf yang dia pakai.
“Eh ini boleh aku
coba? Aku menunjuk scraf pink di atas bed.
“Pengin tahu gimana
wajahku kalau pakaiscraf kayak kalian..Punya siapa?"
"Mau coba?
Waah pasti cakep.” Teman yang lain angkat bicara.
"He eh gimana
pakainya?" Aku tersenyum.
Aku kemudian asyik
mencoba scraf pink itu. Mereka membantu mendandaniku..Kulihat dicermin wajahku
berubah. Perasaan aku jadi lebih cantik he...he..Hmm ada rasa damai memakai ini.
“Waah bener kataku
kan?? Yukiko San makin cakep euy! Mereka mengerumuniku.
"Iie…"
jawabku malu.
“Oh ya kalian kapan
buka ini? Kelihatannya dari tadi tidak ada yang buka? Gak panas? Aku jadi
pengin tahu rambut Wi San ? Boleh ? ” tanyaku ingin tahu.
“E dame you... “ Wi
san tersenyum
“Heeh!! Nande?
“E to..sou
nee..dalam aturan agamaku yang boleh lihat hanya suami, keluarga ..hmm dan..
sesama perempuan yang sama agama islamnya..” Wi San tampak hati-hati
menjelaskan.
“Sou ka?.Aku gak
boleh ya?..maaf.. Daijobu…". Wi San tersenyum
“Oh ya Hasna
kasihan didapur kita Bantu yuuk!"
“Yuuk!!" Sahut
yang lain.
"Eh aku boleh
make ini ke dapur? Biar sama dengan kalian..he he..punya siapa sih?"
“Pakai saja punya
si Hasna. Kita kasih kejutan dia hi hi“ Jawab Mela.
“Ya betul, “ teman
yang lain setuju. Aku senang.
*****
Sejak itu aku
semakin akrab dengan mereka. Aku tertarik untuk mengetahui sesuatu dari mereka.
Toni tidak suka melihat aku sering bergaul dengan mereka. Kami semakin sering
bertengkar. Entah berapa kali aku kena pukul Toni. Kalau sudah begitu biasanya
aku lari menemui Hasna atau siapaun yang aku telah kenal akrab. Aku tak tahan.
Tapi aku begitu mencintai Toni. Dan Toni tahu itu. Dia yakin aku takkan
meninggalkannya. Dia selalu mengejekku. “Ha ha ha! Kau tidak bisa meninggalkan
aku bukan?? Lihat saja setiap kau lari kau pasti akan pulang! Ha ha!” Hatiku
sungguh sakit mendengar hal itu.
Toni bukan suamiku,
kami tak ada ikatan apa-apa. Meski aku selalu bertindak bak istri setia. Dan
Toni? Apakah yang kucari? Apa yng bisa kuharapkan dari dia? Menjadi istrinya?
Kapankah itu? Sejuta Tanya membuatku ragu dengan jalan yang selama ini kutempuh.
Bersama Hasna San
dan teman-temannya aku seperti memperoleh sesuatu yang baru. Ada rasa yang tak
bisa kuungkapkan. Aku jadi sering ketagihan memakai scarf yang mereka sering
menyebutnya jilbab. Seiring dengan itu mulai sering membaca tentang islam.
Mencari reference mengapa mereka menyebut tuhan mereka satu. Seringkali aku
terjebak dalam kebingungan-kebingungan yang tak ada jawab. Sejak kecil aku
terbiasa pergi beribadah kemana saja. Kadang ke kuil, Jinja kadang juga
keluargaku pergi ke gereja. Dan selama bersama Toni aku lebih sering ke gereja.
Entahlah. Tuhanku siapa?
*****
Suatu hari di bulan
Desember yang penuh salju memutih disana-sini, Aku melangkah dengan mantap ke
apatonya Toni tempat selama beberapa bulan ini kami hidup bersama. Seminggu
yang lalu aku bilang pada Toni untuk menengok orang tuaku di Osaka. Aku memang
pulang, hanya dua hari saja. Selebihnya aku banyak bersama Hasna san.
Ting Tong! Aku
memijit bel apato Toni. Hatiku berdebar-debar menanti pintu dibuka.
Bagaimanapun aku mencintai Toni. Namun aku sudah memutuskan. Ada cinta lain
yang harus kugenggam.
Ting! Tong!
Sekalilagi aku memencet bel apato. Toni pasti tahu aku yang datang, karena aku
sudah bilang hari ini aku akan datang. Kuyakinkan hati untuk mengatakan sesuatu
pada Toni. Tak lama kemudian Toni membuka pintu. Kulihat Toni tersenyum, namun
seketika raut wajahnya berubah. Ada bara di sana . Aku yakin dia sudah bisa
menyimpulkan. Aku mencoba tersenyum.Tapi..
“Pergiiii!” Jangan
datang lagi!! Toni berteriak.
Aku diam.
“Cepat!! …Atau
tunggu disitu! Jangan masuk. Haram kamarku kau masuki lagi!" Teriaknya Sekali
lagi aku diam. Kemudian Toni melemparkan semua barang-barangku. Sepatu,
baju-baju, tas…buku..
“Aku hanya ingin
minta maaf..” Kataku pelan
“Persetan!
Braaak ! Pintu
tertutup.
Di depan pintu aku
terpaku. Maafkan aku Toni. Hampir sepuluh menit aku berdiri didepan pintu.
Diantara barang-barang berserak. Aku sungguh ingin minta maaf pada Toni sebelum
aku pergi.
Piuuuuh!
Aku melangkah di
antara reruntuhan salju taman depan apato. Ya Allah indah sekali musim ini.
Cintaku bersemi hanya padaMu. Biarkan aku datang padaMu ya Allah dengan segenap
rasa, menghapus segala noda dan kesalahan lalu. Kutatap langit yang penuh
kapas-kapas melayang. Dan kubiarkan hembusan angin fuyu mempermainkan jilbab
pinkku.
Usai di sudut
kaikan 16.44 satoe oktober 2004
catatan:
Fuyuno Ai : Cinta
musim dingin
Aki : Musim gugur
Todai : Tokyo
daigaku/Universitas Tokyo
Baito : Kerja part
time
Apato : Apartemen
Natsu : Musim panas
taihenkamo: mungkin
susah
matte : tunggu!
Dokoemo ikanai?:
enggak pergi kemana-mana?
Kyou : hari ini
Sensei : dosen
konnichiwa :
selamat siang
Eki : stasiun kereta
Daijoubu : gak apa
apa
Dou : gimana?
Kaikan : asrama
Dame : gak boleh
Nande? : kenapa?
Iiyou : boleh
Souka? : benarkah?
Its Me...!
Sunday, 1 January 2012
Mengenal Rumaisha
Ia adalah wanita Anshor yang termasuk dalam golongan periode pertama wanita yang beriman. Nama sebenarnya Ar-Rumaisha, tetapi lebih dikenal dengan nama Ummu Sulaimi binti Salam An-Najjari. Pada masa jahiliyah ia menikah dengan Malik bin Nudhar An-Najjari dan melahirkan anak bernama Anas. Ketika Ummu Sulaimi telah menjadi mukminah, ia kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai mukminah yang taat. Diajaknya sang suami untuk menjemput hidayah Islam, tetapi kecongkakkan jahiliyah telah membuat suaminya menutup mata atas kebenaran. Bahkan, Malik bin Nudhar An-Najjari marah. Maka, keluarganya dan kota Madinah ia tinggalkan. Negeri Syam menjadi tujuannya hingga ia meninggal disana.
Ummu sulaimi berkata, ”Saya tidak akan menikah hingga Anas baligh dan dapat duduk di majelis.” inilah yang membuat Anas bin Malik ra. Pernah berkata, ”Semoga Allah membalas ibuku dengan kebaikan, ia telah memeliharaku dengan baik.”
Waktu terus mengalir. Hingga tiba suatu masa, ketika itu seorang lelaki bernama Abu Thalhah bangkit melamar Ummu Sulaimi. Ia berkata, ”Ya Rumaisha, Anas telah duduk dalam majelis. Bagaimana jika aku melamarmu?” Maka jawab Ummu Sulaimi, ”Demi Allah! Orang seperti kamu ini wahai Abu Thalhah, tidak mungkin ditolak lamarannya. Hanya sayangnya kamu masih belum beriman, sementara aku adalah perempuan mukminah. Tidak halal bagiku menikah denganmu!”.
Abu Thalhah berkata dengan heran, ”Apakah yang menimpamu wahai Rumaisha? Apakah kau tidak suka dengan emas dan perak?”
”Aku tidak suka dengan emas dan perak. Engkau adalah orang yang menyembah sesuatu yang tidak dapat berbicara, tidak dapat melihat, dan tidak sedikit pun memberi manfaat padamu. Tidakkah engkau malu wahal Abu Thalhah, bahwa engkau menyembah benda yang sebenarnya dibuat oleh fulan dan fulan? Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku. Sungguh, aku sama sekali tidak mengharapkan mahar yang lain!” Jawab ummu sulaimi tegas dengan penuh izzah (kemuliaan).
Abu Thalhah terperangah. Betapa wanita dihadapannya ini adalah wanita cerdas yang mampu menggoncang kesadaran tentang kedunguan dirinya. Abu Thalhah kemudian bekata, ”Bagaimana dan dengan siapa aku harus menyatakan keislamanku, wahai Rumaisha?”
”Nyatakanlah kepada Rasulullah!”
Abu Thalhah mencari majelis Rasulullah saw. Kala itu beliau sedang dikerumuni para sahabatnya. Maka Rasulullah saw. Bersabda, ”Lihatlah Abu Thalhah, ia datang dengan wajah bersinar!”. maka terjadilah apa yang mesti terjadi. Abu Thalhah pun menyatakan keislamannya di hadapan Nabi. Itulah yang dijadikan mahar untuk menikahi Ummu Sulaimi. Maka seorang sahabat, Tsabit Al-Banani berkata, ”Aku sama sekali belum pernah melihat seorang perempuan yang lebih mulia mas kawinnya dibandingkan dengan mas kawin Ummu Sulaimi.”
Ummu Sulaimi menjadi isteri Abu Thalhah yang setia, menyenangkan bila dipandang, taat bila diperintah, dan menjaga amanah jika ditinggalkan suami ke luar rumah. Kebahagiaan mereka bertambah lagi ketika allah mengaruniai keluarga itu dengan bayi laki-laki. Anak tampan itu dipanggilnya Abu Umair.
Kawan, Allah sekali lagi akan mengajarkan kepada hambanya melalui keteguhan keluarga ini. Suatu hari anak yang sangat mereka sayangi ini sakit. Sementara Abu Thalhah menjalankan kewajibannya mencari nafkah disamping menghadiri majelis Rasulullah. Ummu Sulaimi dengan sabar merawat sang anak yang sakitnya semakin parah. Hingga suatu ketika tatkala Abu Thalhah belum lagi sampai dirumah, anak itu meninggal. Dengan sabar Ummu Sulaimi memandikan, mengafani, dan diselimuti dengan kain. Ia berpesan kepada orang-orang yang mengetahui peristiwa tersebut untuk tidak mengabarkan berita itu pada suaminya.
Ketika Abu Thalhah datang, ia menanyakan perihal anaknya. Ummu Sulaimi menjawab, ”Ia sekarang lebih tenang dari kemarin dan tengah beristirahat dengan tenteramnya!” Mendengar jawaban tersebut Abu Thalhah menjadi lega. Segera ia membersihkan badannya. Ummu Sulaimi menyiapkan santapan untuk berbuka saum suaminya itu.
Malam pun tiba. Ummu Sulaimi mengenakan pakaian terindah yang ia miliki. Ia juga memakai minyak wangi. Malam itu Abu Thalhah menggaulinya dengan bahagia. Ketika pagi tiba, Ummu Sulaimi bertanya pada suaminya, ”Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika seseorang meminjam sesuatu kemudian sesuatu itu diambil oleh yang memiliki. Adakah sesuatu itu tetap dipertahankan oleh yang meminjam?”. abu Thalhah menjawab, ”Tidak! Peminjam harus mengembalikan barang pinjamannya dengan rela atau terpaksa. Dan itu yang semestinya dilakukan seorang peminjam!”. Ummu Sulaimi berkata, ”Maka demikianlah dengan anak kita. Ia dipinjamkan Allah kepada kita dan sekarang ia telah diambil kembali oleh Allah. Maka harapkanlah pahalanya disisi Allah!”. Abu Thalhah terkejut, ”innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Engkau tinggalkan ia dan kau datangi aku hingga aku menggaulimu. Kemudian sekarang baru kau beritakan kepergiannya setelah semua berlalu. Demi Allah, aku akan mengadukan hal ini pada rasulullah!”.
Ketika hal itu dikatakan kepada Rasulullah, beliau tersenyum kemudian ia bersabda, ”Semoga Allah memberkatimu pada malam itu!” Doa Nabiyullah itu naik ke langit. Beberapa bulan kemudian lahirlah dari rahim Ummu Sulaimi bayi yang tampan dan kemudian diberi nama Abdullah bin Abu Thalhah. Kelak dari Abdullah ini, Abu Thalhah mendapatkan cucu seorang laki-laki yang bernama Ishak bin Abdullah bin Abu Thalhah, seorang tabi’in ahli fiqh yang termahsyur. Juga sembilan saudaranya yang lain, semuanya ahli ilmu dan hafal al-Qur’an.
Subhanallah, Allahu Akbar!!
Dikutip dari buku Teladan Tarbiyah
Friday, 16 December 2011
Abstraksi...
Terseret arus
Terpukau kilau
Diam...
Sendu mengaduh
Tangis meringis
Usai...
Riak riak rasa
Letupan jiwa
Menyeruak hampa
Fatamorgana...
Terpukau kilau
Diam...
Sendu mengaduh
Tangis meringis
Usai...
Riak riak rasa
Letupan jiwa
Menyeruak hampa
Fatamorgana...
Monday, 12 December 2011
Apakah Kau Tahu Bahwa Allah Sangat Menyayangimu?
Apakah kau tahu bahwa allah sangat menyayangimu, bahkan ketika ketika kau tidak mengingat dan menyebut namanya saat kau mulai makan karena begitu lapar? Lihat bahwa allah tetap memberimu kenikmatan dalam rasa tanpa sedikitpun mencabut rahmatnya itu. Rasakanlah betapa malah badanmu bertambah segar dengan sangat, setelah makananmu mengisi lancar kelesuan dan keletihan ragamu.
Apakah kau tahu bahwa Allah sangat menyayangimu, bahkan saat Dia melihat jelas kelakuan mulutmu tiada henti mengatakan dusta, fitnah, mengadu domba dan mengelarkan rentetan kemaksiatan yang menghancurkan dirimu sendiri dan sesamamu? Mungkin jika manusia yang menyaksikan semua itu, wajahmu akan dipenuhi dengan tamparan dan tiada lagi kehormatan atasmu. Namun Allah juga masih mengampunimu saat kau meminta maaf dan hanya Allah lah yang selalu maha menghargai sebuah taubatmu.
Apakah kau tahu bahwa allah sangat menyayangimu, bahkan saat Dia jelas- jelas melihatmu bermaksiat? Bisa saja saat itu dia mengambil nyawamu dan atau mengadzabmu dengan seribu satu siksa. Namun lihatlah, bahwa dalam keadaan kau berdosa, Allah malah mengangkat derajatmu setelah kau melepas semua jubah kejahatanmu.
Apakah kau tahu bahwa Allah sangat mencintaimu, bahkan saat kau tetap memakinya denga sejuta keluhan yang kau rasa akibat kekurangan dan kesakitanmu di dunia?.Yakinlah saudaraku, bahwa Allah tidak sedang mendholimimu, betapa sayangnya Allah subhanahu wata'ala kepada para hambanya. Dalam jatuhmu yang benar- benar di titik nadir, itu semua adalah karena ulah dirimu sendiri. Dan bukannya Allah membiarkan kau tetap berada di titik itu tanpa sedikit menolongmu. Lihatlah, bahwa sebenarnya tidak kau punya kesempatan lain untuk lari selain dekat dengan Allah. Dan semua hanya tinggal bagaimana kau memilih saja, tetap keras kepala, dan atau meminta ampun dan kemudian Allah akan senantiasa menolongmu.
Apakah kau tahu bahwa Allah sangat menyayangimu?...
Mungkin banyak dari kita yang telah tahu namun tidak sadar dan atau malah tidak mau tahu.
Ketahuilah saudaraku, Allah senantiasa Menyayangimu, dalam keadaan apapapun dirimu, tanpa syarat apapun seperti yang diinginkan manusia dan tanpa pamrih apapun seperti yang diharapkan manusia. Maka apakah kau akan tetap membiarkan dirimu menjadi hamba yang tidak tahu trimakasih dengan tetap membiarkan dirimu sendiri dalam kejahatan yang sama dan berulang- ulang setiap hari?.
Lihatlah dirimu saudaraku,mungkin diantara tubuh dan jiwamu ada salah satu yang bertentangan dengan dirimu, sehingga sulit kau atur. Kaupun bernasib sama dengan begitu banyaknya orang yang ternyata susah bahkan tak bisa bersahabat dengan diri mereka sendiri. Maka, sadarilah bahwa yang paling menyayangimu dan paling mengerti dirimu bahkan lebih dari dirimu sendiri, dalam keadaan bagaimanapun dirimu, siapapun dirimu, dan apa adanya kamu, hanyalah Allah saja. Allah yang selalu siap kapanpun, dan dimanapun menjadi sahabat dan tempatmu berbagi, dan yang pasti akan sangat lebih baik dari pada cara dirimu sendiri menjadi sahabat bagi dirimu. Kasih sayangnya kepadamu adalah lebih sangat mempesona dari hubungan baik yang terbaik yang pernah diberikan oleh makhluk di dunia ini untukmu. Lalu alasan apa yang kemudian membuatmu masih keras hati dan masih menjauh dari Allah Subhanahu Wata'ala?
(Syahidah/voa-islam.com)
Sunday, 11 December 2011
Self_Reflection
"Jika kebahagiaan ibarat sinar matahari dan kesedihan ibarat rintik air hujan. Sungguh kita memerlukan keduanya untuk melihat indahnya pelangi.”
"Banyaknya ujian dalam sebuah perjalanan bukan berarti tak diridhoi Allah, yang penting adalah sejauh mana kita komitmen dan taat di jalan Allah selama ujian mendera"
"Tidak penting menjadi orang penting, tidak penting menjadi orang terhormat, yang penting adalah kita menjadi hamba Allah yang taat …"
Gurunya Manusia
# Guru yang punya keikhlasan dalam mengajar dan belajar
Guru yang punya keyakinan bahwa target pekerjaannya
adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan
Guru yang ikhlas akan berintrospeksi diri
apabila ada siswa yang tidak memahami materi ajar
Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar sebab mereka sadar
profesi guru tidak boleh berhenti untuk belajar #
# Hari ini kuucapkan Alhamdulillah, Ya Allah ! tahun ini aku mendapat karunia dengan masuknya
anak-anak yang luar biasa, yang membuatku tertantang menjadi agent of change bagi diri mereka dan diriku sendiri. Terima Kasih Ya Allah ! tahun ini aku belajar dari siswaku yang "tidak bisa diam", aku belajar dari siswaku yang sulit memahami materi, aku belajar dari siswaku yang nakal. Aku benar-benar bersyukur Ya Allah, engkau hadirkan mereka untuk aku. Bagiku, mereka adalah rezeki. bagaimana tidak, ilmuku bisa bertambah kerana kehadiran mereka. Kesabaranku bisa berlipat-lipat karena kehadiran mereka. Dan yang paling kunikmati adalah ketika mereka tersenyum dan membisikkan sebuah kalimat ditelingaku, " Guru,... ternyata aku bisa !" Bagaiman aku tidak berterima kasih Ya Allah jika kenikmatan hati ini terus-menerus muncul dari hari ke hari dikelasku.
Ya Allah berikan kekuatan kepadaku untuk terus berjuang menjadikan mereka insan-insan yang kelak punya manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masayarakat, bangsa dan agamanya. Amin ya rabbal 'alamin. #
(sumber : Gurunya Manusia, Munif Chatib, Kaifa learning)
Saturday, 10 December 2011
Be Thankful
Be thankful for having a home
Many people sleep on the street
Be thankful even if you are alone
... ... You don't know in the future who you will meet
Be thankful even if you feel down
What doesn't kill you makes you stronger
Be thankful and don't you ever frown
Keep a smile on your face and destroy your anger
Be thankful for having parents who are sweet
Others have parents who are heartless
Be thankful for having them even if they beat
Orphans can tell you how without them they feel helpless
Be thankful for having food
Many people suffer from hunger
Be thankful for having a good mood
Others are depressed and their pain is a strong thunder
Be thankful when you feel pain
It means that you are still alive
Be thankful that you are not insane
Tough life cause insanity to arrive
Be thankful even If u fail
Others don't even have the chance to try
Be thankful for having a brain
That handicaps don't have and die
Be thankful when you make a mistake
Without mistakes you will never learn
Life never stops it's like a lake
And every minute you waste cannot be returned
Be thankful for everything you have
Be thankful for everything you own
Because if you don't
you will regret it when it's all gone
♥ "THANK YOU ALLAH... FOR EVERYTHING YOU HAVE GIVEN ME !!!"
Subscribe to:
Posts (Atom)